Senin, 10 September 2018

Tour Pulau Suwarnadwipa - Pamutusan - Sirandah, Sumatera Barat

Keluarga besar Rayon Simpang Tiga ^_^ 


Sumatera Barat seakan-akan tidak pernah habis akan destinasi wisata, dan ini ada satu yang masih belum dikunjungi : Pulau Suwarnadwipa. Aku yakin banyak yang sudah tahu ya, karena dibuka untuk umum sejak tahun 2016. Lokasinya di sekitar Padang arah ke Painan, bertetanggaan dengan Pulau Pasumpahan, Pulau Pamutusan, Pulau Sikuai dan Pulau Jophira Tintin. Nah yang pulau terakhir tergolong baru dibuka dan aku belum kesana. Maybe one day.

Trip kali ini cukup spesial, karena temanya Family Gathering dari kantor. Jadi kalau tahun lalu gatheringnya pakai offroad ke Bifa Cottagedi Lubuk Minturun, tahun ini kita mau agak santai ke pulau menikmati pantai. Jadi personilnya rame banget, hampir 50 orang. Persiapan juga cukup spontan, pokoknya Jumat malam tanggal 16 Februari 2018 janjian berangkat ke Padang dan menuju Pantai Bungus. Tiba esok paginya di Bungus, kita langsung dipersilahkan sarapan oleh eo, dan saat itu juga kita tahu bahwa kita berada di tangan yang tepat : Arsaloka Tours.
Meeting point. 
Berangkat!

Iya, kita pikir ini hanya jalan-jalan biasa, main di pantai dan selesai. Tapi tim Arsaloka memberi lebih dari ekspektasi kita. Dengan digawangi oleh Om Erick Smile, sejak awal perkenalan dan briefing, mereka seakan sudah tau maunya kita apa dan gak akan biarkan kita tidak puas dengan perjalanan ini. Tim ini punya standar baik, prepare dengan life jacket, kamera dokumentasi, kamera underwater, tim pendamping, peralatan snorkling, serta transportasi-akomodasi-konsumsi yang memuaskan. Nanti di belakang kami dapat kejutan juga dari mereka. ^_^

 Berangkat dari Pantai Bungus dengan menggunakan kapal motor kapasitas 20 orang, membuat waktu perjalanan menjadi tidak terasa. Walau melintasi perairan teluk yang dalam dan luas, kita tidak terlalu takut karena dihibur dengan pemandangan perairan dan alam Sumbar di sekitarnya. Setelah setengah jam kita akan disambut dengan pulau yang dipenuhi pohon dan tulisan besar ‘SUWARNADWIPA’ di tepi pantainya. Kapal pun bersandar di dermaga dan memasuki komplek pulau kami tidak menyangka bahwa pulau ini memiliki fasilitas sangat baik.

PULAU SUWARNADWIPA
Selamat datang di dermaga Suwarnadwipa
Rumah gadangnya cakep


Terbuat dari pohon kelapa


Yuk main yuk =D . 

Kita mulai sejak sampai di pintu masuk yang berupa batu alam disusun sehingga menjadi spot foto yang mumpuni, dan juga loket yang disiapkan untuk paket-paket wisata. Di balik pintu ada lapangan voli yang tentu bisa menambah semarak acara dengan olahraga bersama. Kemudian di sepanjang pantai juga terdapat loket berbagai jenis merchandise, dan sewa kano, banana boat atau alat snorkeling. Yang menjadi spot utama untuk foto di pinggir pantai selain tulisan besar Suwarnadwipa adalah ayunan kembar di atas air yang diletakkan agak menjorok ke laut. Bagus sekali.

Untuk penginapan ada beberapa pilihan : 
a. Rumah besar yang terdiri dari beberapa kamar di lantai bawah tipe bisnis kapasitas 4-5 orang dengan harga sekitar 500rb/orang 
b. Di lantai 2 rumah besar ada aula/hall dengan kasur tipe dormitory seharga sekitar 450rb/orang, 
c. Rumah tipe cottage yang terdiri dari 1 kamar dan kamar mandi dalam kapasitas 2 orang seharga 575rb/orang 
d. Rumah tipe gazebo kapasitas 7 orang seharga sekitar 400rb/orang.

Untuk konsumsi juga tidak usah khawatir,karena kami yang hampir 50 orang saja tidak ada keluhan perihal makan. Ditambah lagi lobi hall yang cukup luas dan ada tempat duduk yang semua dari pohon kelapa untuk bersantai sambil minum kopi dan teh yang selalu tersedia. Mau barbeque juga sebenarnya bisa, tapi tentu butuh extra cost. Intinya kalau permasalahan utama berupa transpor, akomodasi dan konsumsi, tim Arsaloka ini sudah khatam.

PULAU PENYU
Gapura Pulau Penyu .
Trekking sedikit gak masalah
Kepalanya mirip penyu sih. Paslah
Oke.sekian. demikian
Pulau Penyu
Mau pantai tapi gak mau hitam. Haha

Jadi setelah bersantai dan berberes, saatnya main pantai! Tujuan pertama malah keluar dari Suwarnadwipa dulu, karena selagi siang. Berangkat lagi dengan kapal motor, , kita menuju Pulau Sirandah yang berjarak hanya sekitar 15 menit. Dari ramainya kapal motor yang bersandar, terlihat Pulau Sirandah ini didatangi banyak pengunjung dari tamu keluarga hingga rombongan kantor seperti kami. Tim Arsaloka memandu kita trekking membelah pulau ini, which is good, karena berasa adventure kan melewati hutan walau sudah ada jalurnya. DI ujung jalur kita melihat pantai yang pasirnya putih kecoklatan dan di depannya ada gundukan batu besar seperti cangkang sehingga orang menyebutnya  Pulau Penyu, bukan karena tempat penangakaran penyu, tapi karena morfologi bebatuan berbentuk penyu. Pada saat kami datang air sedang surut, sehingga memudahkan berjalan ke tengah walau pantainya masih banyak dipenuhi karang, jadi harus ekstra hati-hati.

PULAU SIRANDAH


Welcome to Sirandah. 
Jumatan di pantai. 
Water sport Sirandah ckup banyak
Cottage warna-warni di Sirandah

Setelah bermain di Pulau Penyu, kami kembali ke pantai Pulau Sirandah untuk mengambil waktu sholat Jumat. Bayangkan Jumatan di pantai, di bawah pohon cemara dengan suara desir angin laut...syahdu! Sambil menunggu yang Jumatan, kami pun sebagian jalan untuk lebih eksplor Pantai Sirandah ini yang ternyata banyak menawarkan water sport, restoran dengan disain yang apik, dan yang buat kagum bahwa mereka punya cottage warna-warni yang sepertinya terinsipirasi dari Pantai Brighton di Australia. Nice.. Pasirnya juga cukup lembut dan garis pantainya juga jauh. Kalau tidak mengingat perut yang kelaparan, mungkin kami lebih lama di Pulau Sirandah ini. Sangat baik dikelola.

PULAU PAMUTUSAN
Welcome to dermaga Pamutusan.
Underwater Pamutusan. 
Karangnya masih ada yang terjaga. 
Mirip buaya gak yang di depan? ^ ^. 
Trek nanjak sedikit demi puncak Pamutusan. 
Dunia milik berdua. 
Ini murya, konco paling aneh kalo foto =D. 
Puncak Pamutusan oke!. 
Gak rugi nanjak kalau dapat yang begini. 
Tim sampai puncak ^_^. 
Kalo gak ada signal ya begini. =D. 

Selesai makan siang, masih ada lagi spot selanjutnya  yaitu Pulau Pamutusan. Saya sebelumnya tahun 2012 sudah pernah ke pulau ini, tapi hanya menikmati bawah lautnya saja.  Spot underwater di sini cukup baik, namun memang tidak sebagus dulu, mungkin karena banyaknya polusi pembangunan yang membawa zat kimia ke air laut sehingga karang kurang bertumbuh baik dan begitu juga vegetasinya. Ini menjadi PR bagi pemda, pengelola dan masyarat setempat, sayang sekali keindahannya berkurang jauh.

Yang berbeda kali ini kami merapat di Pulau Pamutusan. Dinamakan begitu karena apabila laut pasang, maka air menutupi bagian tengah pulau sehingga pulau yang daratannya sebenarnya menyatu menjadi putus. Aku juga heran melihat pulau ini sudah jadi ramai, bahkan ada beberapa kelompok yang memasang tenda menginap. Om Erick Smile mengajak kami berfoto di spot yang membuat pulau di depannya terlihat seperti buaya. Beruntungnya kami, ya memang refleksi dari air laut membuat pulau di depan seperti buaya. Haha...bisa-bisa.

Gak sampai situ saja, kita diajak untuk trekking 15 menit saja, namun jalannya menanjak . Ketika ditanya di atas ada apa untuk sekedar melepas tanya apakah menanjak ini worth it, jawaban yang keluar adalah Lihat Saja Sendiri. Damn! Hahaha... Jadilah semua naik, dan di puncak tidak hanya sekedar rumah berteduh, tapi kita melihat Pasumpahan secara 360 derajat yang tentu keindahan ciptaan Tuhan jangan diragukan serta kepuasan mencapai puncak. Sore itu kami habiskan di Pulau Pamutusan sambil bermain di pantainya yang berpasir lebih lembut dan bersama senja sore dan keluarga, tanpa signal HP. Keren bukan!

ARSALOKA TOURS
Outbond by Arsaloka. 
Team Games by Arsaloka. 
Tempat outbondnya cakep yak. hehe. 
Gak lengkap kalo gak basah-basahan. 
Esok paginya kita bangun dan barulah bisa menikmati Pulau Suwarnadwipa. Kita bisa pakai kano atau sekedar bermain di pantainya yang berpasir lembut dan laut pantainya aman akan karang. Namun, tidak berapa lama kami diberi surprise oleh tim Arsaloka karena mereka mempersiapkan Kegiatan Outbond karena background kegiatan kantor, bahkan tanpa kami minta. Keren banget! Jadilah kami mengisi pagi itu dengan kegiatan kebersamaan yang tentunya menyenangkan dan ajang lucu-lucuan sekaligus mendapat makna teamworking di dalamnya. Terima kasih tim Arsaloka, membuat acara kantor kita lebih seru dan berkesan.

PULAU SIKUAI


Nice Underwater @ Sikuai. 
Untuk pertama kali lepas life jacket demi foto ini. Uhui! 
Ini Pantai Sikuai. Hiraukan orangnya. Haha 

Berakhirnya outbond dilanjutkan kegiatan mandiri sambil menikmati pantai, namun di sisi lain om Erick juga prepare untuk mengantar pesertanya yang penasaran dengan bawah laut dan foto underwater di spot lain. Jadi selain kejutan outbond, om Erick Smile juga mengajak kami yang berminat untuk lihat underwater di Pulau Sikuai. Sebagai catatan pulau ini salah satu yang paling awal dikelola dan berjaya di jamannya, namun ditutup sekitar 2 tahun lalu karena pasca gempa dan akan dipersiapkan untuk lokasi pendirian hotel. Saya tahun 2013 juga pernah kesini dan salah satu yang paling ramai dan komplit. Jadi bisa dikatakan selama ditutup, bawah laut bisa beristirahat dari pengunjung.

Kami yang ikut hanya berlima, dan  kami kagun om Erick yang dengan jurusnya berhasil membuat kami singgah di Sikuai walau tour guide lain meragukan kami untuk dizinkan bersandar. Akhirnya di Sikuai ini kami bisa menemukan Clone Fish/Anemo dengan habitatnya. Itu pertanda perairan dan bawah lautnya masih sehat. Dan untuk pertama kalinya saya berani (baca nekat) untuk lepas life jacket demi mendapat foto underwater. Lepas dari hasil fotonya, aku merasa kagum dengan diri sendiri yang sudah bisa mengapung tanpa life jacket . (PS: iya, aku gak pintar berenang, tapi hobinya snorkling. Hahaha)
See u next time Suwarnadwipa

Jadi , kami senang karena tour guide dari Tim Arsaloka tidak membiarkan kami untuk tidak puas. Sehingga ketika kami pulang masih ada kenangan yang bisa diingat terutama misi mereka yang juga membawa pesan menjaga lingkungan, khususnya perairan Sumbar.

PS : This blog dedicated to Rayon Simpang Tiga Family, Thanks for amazing 2,5 years.
Thanks to Arsaloka Team. Most of photos were taken by Erick Smile

Senin, 18 Juni 2018

11 Tempat Wisata Rekomendasi : Tanjung Bira Trip

Profile picture andalan di Tanjung Bira

Perjalanan balik ke Makasar tidak terlalu terasa lama, sesuai arahan kami berdua turun di terminal kota dan gak lama setelah itu kami dijemput oleh sobat terbaik kami : Dikta dan Eto. Jadi ceritanya kami berempat ini dulu sekelas saat diklat pembidangan di awal kerja. Untunglah ada mereka penempatan di Makasar dan mau ngajak kita jalan ke Tanjung Bira.

Aku jujur sebelumnya gak pernah tau ada yang namanya Tanjung Bira, tapi Dikta dan Eto ini ketika ditanya asiknya jalan kemana, maka selain Wakatobi yang harus pakai pesawat lagi, maka Tanjung Bira yang mereka rekomendasikan. Dan setelah ke Bira, aku merasa dodol kok bisa sebelumnya gak tau tentang tempat seindah ini.
Nah ini yang dibilang savana ala Dragon Ball. Hehehe
Ada banyak ladang garam di sepanjang perjalanan Bulukumba ke Bira

Perjalanan ke Bira ini memakan waktu sekitar 4-5 jam dan melewati kota Bulukumba (yang juga pertama kali dengar dan ternyata tempat legend pembuatan kapal phinisi). Karena siang hari dan juga banyak obrolan setelah bertahun2 gak jumpa, jadi perjalanan sangat dinikmati. Ditambah lagi pemandangan alam di kiri kanan yang bagus dengan hamparan padi yang pas sedang menguning dan rumah-rumah adat panggung. Yang unik juga kita akan menemukan banyak ladang garam dan penjual garam gonian di sepanjang perjalanan, dan satu lagi sering ditemui padang rumput dengan pohon yang keliatannya kayak di fim Dragon Ball =D.

Sampai di Bira atmosfernya udah asik bener : matahari terik dan langit cerah dan laut biru dengan putih pasir pantai. Kami pun ke homestay yang pemiliknya udah dikenal Dikta, lokasinya di komplek belakang Anda Hotel (penginapan yang punya restoran berkonsep kapal phinisi pas di tebing pinggir pantai.

Barang sudah aman, kami pun tidak buang waktu untuk langsung melaut. Guide kapal bilang bahwa Tanjung Bira ini memiliki taman laut yang sangat bagus. Dan aku membuktikan sendiri bahkan hanya dengan snorkeling saja kelihatan taman lautnya sangat bagus dan terjaga. Bahkan penduduk sekitar melestarikannya dengan melakukan penyemaian terumbu karang di laut ini, karena mereka menyadari bahwa laut ini adalah investasi terbaik bagi pariwisata sekaligus perekonomian mereka.
Pantai Bira eksotis di siang hari
Di bawah tebing penginapan
Menunggu datangnya senja di Pantai Bira
Dikta, Eto dan Seto
Anda Beach Hotel, homestay kita pas rumah petah di belakangnya
Tanjung Bira di pagi hari
Kami menikmati Tanjung Bira ini selama 1 hari 1 malam. Kita bisa pilih menginap atau makan di hotel dan resort yang berjejer, atau seperti kami yang memilih dibakarin ikan di pinggir pantai oleh pemilik homestay. Pantai Tanjung Bira ini juga menurutku salah satu pantai terbaik untuk menikmati sunset. Dan matahari di senja itu muncul dengan elegannya membuat kami betah menunggunya hingga hilang di ufuk barat. Sore yang menakjubkan : menikmati matahari tenggelam di pasir putih, dengan suara ombak dan sepoi angin,  ditemani sebotol bir dingin dan teman2 terbaik. Perpaduan sempuurrnna!

Besoknya paginya kami kesiangan bangun karena mungkin sangkin capeknya, dan hanya sempat main ke pantai yang dibawah tebing penginapan. Gak lama setelah itu kami pun kembali ke Makasar untuk mengejar pesawat kembali ke Jakarta. Walau disikat dalam waktu 4 hari, tapi trip Makasar-Toraja-Bira ini adalah salah satu yang terbaik dan terkesan. Terbukti, aku masih ingat detil perjalanannya walau sudah 5 tahun terlewati. ^_^

Makasar-Toraja-Bira, 12-15 September 2013

11 Tempat Wisata Rekomendasi : Tana Toraja Trip

Welcome to Tana Toraja, South Sulawesi
Kegilaan mulai tercetus  saat di sore harinya di Pantai Losari jumpa dengan rekan lainnya dan awalnya gimana ya, kita mikir tuh udah jauh2 ke Sulawesi jadi sayang dan nanggung banget kalo gak sekalian ke Toraja. Awalnya rame yang ikut, trus berguguran satu persatu (tipikal ya =D), dan akhirnya tersisa 2 orang yang jadinya niat banget : aku dan Seto. (Ohya, bareng Seto ini juga udah beberapa kali jalan : Pulau Cubadak di Padang, Pulau Bangka dan muter2 Bandung)

Jadi karena cuman 2 orang tersisa, gak jadi sewa mobil dari Makasar. Sehingga opsi paling memungkinkan ke Toraja adalah naik bus dan kita harus naik dari terminal kota yang notabene ini daerah baru bagi kita. Sampai di terminal kita belum ada tiket dan go show aja cari tiket bus yang berangkat malam itu juga. Akhirnya dapat tiket walau tidak bisa duduk sebelahan dan berangkat sekitar jam 9 malam. Kemudian atas info dari teman kuliah, kita direkomendasikan dengan seorang tour guide di Toraja, dan setelah ditelepon pas sekali sedang kosong dan bersedia untuk jemput, menyediakan transpor dan akomodasi selama di Toraja. Gila...ini namanya semesta mendukung!

Yang menarik dalam perjalanan ke Toraja adalah bus yang ada semuanya bagus : dari kursinya nyaman kayak di kasur, fasilitasnya TV dan kamar mandi bagus. Setelah browsing, akhirnya aku tahu bahwa transportasi bus terbaik di Indonesia memang bus Makasar-Toraja ini. Keren !

Sampai di Toraja pas di pagi hari sekitar jam 7. Turun dari bus langsung dijemput dan dibawa ke kamar penginapan yang menurutku sangat appropriate dengan jenis kunjungan kami yang backpackeran ini. Jadi penginapannya itu terdiri dari beberapa cottage yang ada beberapa kamar di dalamnya. Isinya ya memang hanya kasur dan meja saja, pas sesuai yang kita butuhkan yang hanya perlu tempat untuk letakkan tas, ganti baju dan lanjut pergi lagi. Toh kebanyakan waktu pengunjung itu adalah di luar, ke tempat wisata. Tidak perlu AC karena Toraja adalah dataran tinggi yang sudah cukup dingin. Jadi, dimulailah petualangan di Tanah Toraja..
Pintu masuk penginapan. Keren!
Makanan khas dan Kopi Toraja yang super!

4. KOPI TORAJA DAN MAKANAN TRADISIONAL 
Tour gide kita keren banget bisa tau tamunya butuh isi tenaga dulu. Dan kita request tempat makan yang tradisional Toraja dan halal. Gak lucu kan ke toraja carinya lontong sayur juga. Hehe..Dan warung yang dipilih walau sederhana tapi menunya khas. Baru kali ini aku sarapan disuguhi : nasi ketan hitam pakai parutan kelapa dengan lauknya telur bulat disiram kuah sambel, plus saudara-saudara...eng-ing-eng... KOPI TORAJA. Jujur saudara2, di tempat inilah aku jatuh cinta dengan Kopi Toraja, dan minta tambah lagi. Aku ingat pada hari itu aku minum 5 gelas kopi Toraja, I’m in love..
Kete Kesu yang indah
Tongkonan yang sudah berumur tua dan ornamen dari kerbaunya
Kubur batu tua di Kete Kesu yang sudah tua

5. KETE KESU
Selesai makan kita sepakat untuk menghabiskan seharian ini keliling kemana saja bisa dibawa. Dan tujuan pertama langsung ke tempat legend : Kete Kesu. Sepanjang perjalanan penuh pemandangan indah persawahan, jadi cukup buka kaca mobil saja, tidak perlu AC.

Kete Kesu ini merupakan desa wisata dengan deretan rumah adat Tongkonan yang iconic. Umurnya juga sudah ratusan tahun dan difungsikan untuk lumbung padi dan juga sekaligus museum. Ornamen eksteriornya juga cukup dramatis karena banyak tanduk dan rahang kerbau yang digantung rapi, kemudian ukiran kepala kerbau dan corak-corak tulis Toraja pada dindingnya. Lanjut ke kompleks belakangnya juga ada kuburan adat yang mungkin umurnya juga ratusan tahun. Kuburan adat ini berupa kuburan batu, dimana hampir semua kubur (petinya) berbentuk perahu dan diletakkan menggantung di tebing batu atau dalam gua. Beberapa ada yang sudah tinggal tengkorak dan tulang belulang.
Londa, kubur batu yang terkelola dengan baik
Insight Londa, ada cerita2 dibalik jenazah di Londa ini
6. LONDA
Londa merupakan objek wisata lainnya yang terdapat kuburan batu di tebing yang terjal. Londa pengelolaannya lebih terpadu, ada uang tiket masuk dan juga jasa pemandu sekaligus sewa lampu petromaks, karena banyak kubur batu di dalam goa. Di Londa ini juga banyak ditemukan tulang belulang yang sudah berumur ratusan tahun, tapi ada juga yang umurnya masih baru2. Namun yakinlah bahwa meski ini kuburan ‘terbuka’ tapi aku tidak ada mencium bau tidak sedap. Yang menarik di Londa ini adalah cukup banyak patung ukiran yang katanya menyerupai rupa jenazah atau Tau Tau yang dipajang di kubur batu. Kemudian pemandu juga ada menceritakan legenda cinta terlarang di sepasang tengkorak, dan baru kali ini aku bisa2nya begitu excited berfoto bersama tengkorak. =D . Coba di tempat lain, mungkin akan jadi kisah horor. Hehehe
Upacara adat penguburan jenazah Toraja
Pakaian adat Toraja. Menarik sekali.
Kudapan tradisional, dan Kopinya. Yahud.
Corak tulis yang indah. Ada di semua Tongkonan.
Ibu ini baik mempersilahkan kita duduk dan melihat upacara berlangsung. Wajahnya unik
Entah babi ke berapa yang akan dieksekusi. =D
7. UPACARA ADAT
Selesai dari Londa, pemandu kami menyampaikan bahwa sedang ada berlangsung upacara adat hari ini di lokasi yang dekat dari Londa. Kami pun sepakat untuk menjadi saksi mata dan setuju bahwa ini kesempatan langka. Pemandu pun bilang kalau kita ini hoki sekali datang ke Toraja pas ada upacara adat. Upacara kali ini untuk upacara penguburan jenajah yang sebenarnya sudah lama meninggal, tapi biayanya baru cukup terkumpul sekarang. 

Luar biasa memang. Luar biasa pertama, saat sampai ke lokasi juga ramai orang, bahkan banyak juga disaksikan turis mancanegara. Kemudian luar biasa kedua, karena ada beberapa baris babi yang diikat di bambu dan diarak dengan dipanggul ke lapangan yang juga sudah banyak dipenuhi oleh kerbau yang sudah dipotong dan barisan babi yang siap untuk dieksekusi. Dan luar biasa ketiga, lapangan tempat upacara itu dikelilingi oleh Tongkonan yang ternyata sengaja dibangun untuk acara ini, selesai acara maka akan dibongkar lagi. Itu Tongkonannya ukuran besar lho dan dibawahnya kita bisa berteduh malah. Satu yang pasti sih, upacara ini membutuhkan biaya yang besar-besar-besar-sekali.

Tapi aku cukup menikmati upacara ini, karena entah kenapa sepertinya ada kemiripan dengan budaya Batak. Dan di sisi lain, meski hanya tamu tapi kita disapa hangat, dipersilahkan untuk duduk menyaksikan keunikan dan kekayaan budaya toraja bahkan disuguhi makanan kecil dan lagi-lagi kopi toraja. Tentu betah kan!
Spot iconic di Lemo
Kubur batu di Lemo
Sempatin singgah dan ngbrol di pemahat Lemo
Hasil kerajinannya unik-unik khas Toraja
8. LEMO
Cukup lama menyaksikan upacara adat, kami pun singgah sebentar untuk makan, dan lanjut ke destinasi legend lainnya : Lemo. Lemo juga merupakan komplek kuburan batu yang besar, bahkan paling besar dari yang sebelumnya dan paling iconic. Tebing batu tempat kubur batu di Lemo terhitung cukup tinggi dan terjal sehingga membuat tergeleng bila membayangkan bagaimana caranya mengangkat peti/kubur sampai ke bagian atas tebing terjal. Letak Lemo juga di pinggir sawah sehingga pemandangannya semakin outstanding. Oh ya, jangan lupa sempatkan untuk mampir sambil mengobrol dengan para pengrajin pahat di pematang sawah Lemo. Selain produknya bagus, kita juga dapat tambahan cerita tentang Lemo.
Kuburan bayi (baby grave) di Kambira
Pohon tanaa tempat baby grave, menghasilkan getah yang dianggap pengganti ASI
Pohon tanaa berumur ratusan tahun dan pernah terkena petir
9. KAMBIRA BABY GRAVE 
Pemandu mengerti sekali dengan kita yang ingin tau lebih dan yang beragam, jadi kami dibawa ke Kambira atau sering disebut Baby Grave, kuburan untuk jenazah bayi. Jujur kalau kubur batu sudah pernah aku saksikan via TV atau buku dan thank God bisa langsung liat. Tapi baby grave ini aseli baru pertama kali mendengar dan langsung menyaksikan. Kompleks baby grave ini terdiri dari beberapa pohon taraa yang berdiameter besar dan tinggi, konon dulunya pernah kena petir juga. 

Baby grave ini untuk jenazah bayi umur di bawah 6 bulan(dianggap masih suci), dan cara dikuburkannya dengan memahat menjorok ke dalam sesuai ukuran bayi dan ditutup dengan ijuk saja. Jadi di satu pohon itu ada beberapa baby grave, dan tidak ada mengeluarkan bau. Pohon taraa ini memiliki getah dan dianggap sebagai pengganti ASI. Dengan menguburkannya di pohon ini, dianggap bayi tersebut dikembalikan ke rahim ibunya =(  Melihatnya agak campur aduk antara sedih tapi juga kagum karena bagaimanapun ini kekayaan budaya Indonesia.
Yang tampan di Tampangallo
Umur jenazah di Tampangallo relatif sudah lama
10. TAMPANGALLO
Destinasi terakhir di Toraja adalah desa Tampangallo, yang merupakan kubur batu yang berumur tua. Lokasinya juga di tebing terjal tapi menjorok ke dalam, sehingga bagiku tampak seperti tebing di film Pirates Carribian. Kubur batu di Tampangallo ini dipenuhi dengan deretan tengkorak dan kubur dari kayu yang sudah mulai lapuk. Dan tempat ini semakin indah karena di belakang komplek kubur batu ada kolam yang terata.

Tanpa terasa senja sore pun sudah mulai datang dan sayang kami harus mengakhiri trip ini karena harus mengejar bus kembali ke Makasar jam 8 malam itu juga. Sehingga kami balik ke penginapan, beberes dan check out. Aku bahkan masih sempat untuk membelikan kain khas daerah sebagai oleh2 wajibku untuk orang tua. Walau cuman 1 hari, tapi aku puas dan sangat berkesan dengan trip ini. Aku dapat mengunjungi spot wisatanya, kulinernya, oleh2nya, bersosialisasi dengan penduduknya dalam acara adat serta alamnya yang indah.

Mungkin kami akan extend kalau tidak mengingat ada janji jam 7 pagi besok ketemu di terminal Makasar untuk trip selanjutnya ke Tanjung Bira. Yang ini...gak kalah seru. Bahkan foto di Tanjung Bira ini sering aku pakai untuk profile picture karena keindahannya.

Selanjutnya (end) : 11 Tempat Wisata Rekomendasi : Tanjung Bira Trip