Minggu, 18 April 2010

Eat, pray, love : Sengsara membawa duit.

Sepulang dari Yogya awal Maret kemaren sampe seminggu lalu, saya hanya membaca 1 buku saja. Eat,pray, love oleh Elizabeth Gilbert. Fyi, buku ini udah saya hunting sejak 2009. Tapi benar-benar tidak ada di Toko2 buku. Baik di Jakarta, di Batam apalagi di Tanjungpinang. At last i found it at Terminal B, Cengkareng Airport, in Periplus book store, which is all their books in english version and of course at the expensive import price. Tapi namanya udah ngebet (baca: obsesif), saya akhirnya merelakan selembar uang merah dan selembar uang ungu dengan yakin bahwa ini akan worth it dengan isi bukunya yang populer dimana2. Well, nyaris 3 mingguan mbacanya karena vocab saya yang masih lemah, karena kesibukan, karena program 1 movie 1 days dan....this book is kinda bore at the beginning. Sorry.

Buku ini bercerita tentang kisah nyata penulisnya sendiri yang memutuskan mengelilingi 3 negara "I" : Italia, India dan Indonesia, pasca hubungannya dengan suaminya yang retak. Dia putuskan untuk cuti dari kerjanya sebagai penulis dan keliling. Itu pertama yang buat saya iri sekaligus heran. Saya pernah review buku Honeymoon With My Brother (Franz Wizler) di blog ini juga dengan latar belakang sama : break up, leave ur job and go around the world. Apakah ini trend bagi bule2 sana, ato hanya beberapa saja? Berapa besar gaji mereka sehingga berani ninggalin kerjanya dan keliling dunia, dan herannya lagi dia tetap bisa dapat pekerjaan lagi nantinya. Whatever it is, i still love Indonesia.

Mulai dari part 1, Liz ke Italia karena pengen belajar bahasa Italia yang menurutnya indah (saya idem).Hidup selama 6 bulan di sana, bertemu teman sesama pelajar bahasa dan di Italia ini fokus masalah E-A-T. Anehnya menurut saya, bagian ini gak 'eat-eat' banget. Dari visualisasi saya, Pak Bondan lebih hebat. Tapi di kota ini Liz banyak mikir tentang hubungan dengan suaminya dan setelah pulang ke New York, dia akhirnya cerai.

Part 2 (setiap part ada 36 cerita), Liz ke India dengan alasan dia mau mendalami Yoga. Liz pergi ke Ashram yang direkomendasikan oleh guru yoganya di NY. Bagian di India ini menurut saya sangat gelap, mungkin karena dia berusaha pulih dari perceraian. Jadi ada banyak tangis, marah, kecewa, hampa, dsb dan menurut Liz itu bisa diatasi dengan Yoga (once again, itu menurut dia). Tapi memang dia bisa tenang dengan hidup berdoa dengan Yoga itu.

Tanpa pulang ke NY, dia langsung ke INDONESIA!! Turun di Bali dengan tanda tanya besar "mau kemana ni??". Karena alasan sekaligus petunjuk Liz ke Bali adalah kunjungnnya sebagai reporter majalah untuk meliput ttg meditasi di Bali. Dan koneksinya adalah Ketut, a healer, yang yakin Liz suatu saat akan kembali, and she did. Nah, di Indonesia ini yang seru abis ceritanya (saya yakin pembaca lain juga merasa seperti itu, bukan karena saya Indonesian).Di Bali Liz menemukan keseimbangan hidup. Tenang dengan Yoga di paagi hari dan meditasi ala Bali yang diajarkan Ketut di malam hari, dan siang hari dia sosialisasi dengan teman2 yang didapat di sana. Mulai dari Mario si penjaga hotel, David pemusik yang rada bule-an, Ketut Liyer sang dukun, hingga Wayan Nurasih yang healer dan Felipe pria Brazil yang akhirnya nyantol ma dia.

Fyi, semua tokohnya real, beberapa masih di Bali. Saya sudah cek di internet. Konfliknya yang bagus tuh saat Wayan, seorang ibu single parent karena korban KDRT dengan 1 putri dan 2 anak angkat, sangat perlu rumah untuk menggapai impian mereka. Liz kemudian menghubungi teman2nya via email, dan email2 itu pun di forward kemana2 dan akhirnya terkumpul US$ 18.000. Uang diberi langsung pada Wayan biar rumah langsung dibeli. Tapi sepertinya Wayan mengulur2 waktu sampai Liz akan kembali ke NY. Liz pun sadar bahwa dia bisa saja sudah kena tipu. Akhirnya....baca sendiri. ^_^

Yang saya lihat sih buku ini kumpulan buku harian atau blog penulisnya yang dikumpulkan jadi sebuah novel. Karena gaya bahasanya seperti blog. Ada tips2 juga, ada tambah pengetahuan tentang budaya di tiga negara itu dan sejenisnya yang non-fiksi. Salut buat mereka yang tidak terus terpuruk ketika ada masalah, tapi malah semakin kreatif dan bebas untuk lepas dari masalah itu.
TJP, 17 April 2010.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar