Sabtu, 30 Juli 2016

Ekowisata Rimbang Baling

Kawasan Hutan Rimbang Baling (captured by Heri Budiman)

Saat melakukan trip sebelumnya ke Tesso Nilo, Mas Gobel sang guide sangat menyarankan untuk coba ke Rimbang Baling. Karena melihat kesungguhan hatinya, kita cari tau semua tentang destinasi ini. Rimbang Baling menurut versiku bisa dikatakan kawasan hutan di sepanjang Sungai Kampar yang memiliki kekayaan hayati dan budaya sangat beragam. Kawasan hutan yang dipercaya sebagai rumah 5 dari 7 jenis harimau yang ada. Tidak berapa lama setelah itu nama Rimbang Baling masuk juga di halaman depan koran karena baru dikunjungi Joe Taslim dan Ario Bayu, jadilah diniatin ke Rimbang Baling dengan host kali ini bro Adi Widoyoko. Diputuskan berangkat tgl 21-22 Mei 2016 bersama 18 orang yang harus disebutkan sebagai saksi sejarah : Mas Kalid+Istri+Raihan, Ceisar+Cece, Mas Firdaus, Adi, Benny, Tedy, Samuel, Mushof, Okta, Yannys, Wanti, Ifa, Lidya, Mira & Nesya (iya tau, orangnya memang itu ke itu aja! ^^)

Trip kali ini kita ambil paket ekowisata 2D1N dengan kontak Mbak Budy Utamy (0821748111000) dengan timnya dari Rumah Budaya Sikukeluang yang kece semua! Untuk biaya yang dipublish di koran Rp.650.000 inc. transportasi dari Pekanbaru, konsumsi dan akomodasi. Paketnya hanya untuk 1 tim saja (min. 6 org) dan fortunately kami tercatat sebagai pengunjung ketiga.

Hari 1
Berangkat dengan kapal dari Desa Gema (captured by Ceisar)
The master : Bpk. Heri Budiman (captured by ceisar)
Muara Sungai Bio (captured by Heri Budiman)
Kompleks Camping @Desa Koto Lamo (captured by Heri Budiman)
Api unggun dan detail camp (captured by ceisar)
All Team sebelum tube rivering @Jembatan Koto Lamo (captured by Heri Budiman)

Ngrobrol, gitaran, ketawa2 dengan teman terbaik (captured by Heri Budiman)


Perjalanan diawali di sabtu pagi yang cerah, sudah bergerak dari jam 9 pagi menuju Lipat Kain selama 1 jam lebih dan belok di Simpang Pongkai menuju Desa Gema sekitar 1,5 jam lagi. Pemberhentian mobil adalah di Desa Gema untuk makan siang dan lanjut perjalanan menggunakan perahu, di desa ini juga kita terakhir mendapatkan signal hp.

Aku sangat menikmati perjalanan dengan perahu ini, walau lebih lama dari biasanya karena arus setelah hujan, namun selama 2 jam kita bisa menyaksikan kehidupan penduduk di tepi sungai dan ngobrol banyak dengan pemandu yang kebetulan duduk seperahu. Beberapa budaya yang menarik adalah adanya Lubuk Larang, yaitu kawasan dilarang mengambil ikan yang dibatasi oleh tali yang direntangkan di sepanjang sungai. Lubuk Larang ini akan dibuka pada saat momen atau event tertentu yang merupakan pesta rakyat. Ada juga budaya mengambil madu dari Pohon Sialang seperti halnya di Teso Nilo. Kita bisa lihat local wisdom penduduk sepanjang Sungai Kampar ini yang sangat menjaga sungai sebagai pusat kehidupannya. Dari sungai ini mereka bertransportasi dengan lebih mudah, berpencaharian dan hidup dari sungai. Sehingga adanya pembukaan lahan sawit di hulu sungai Kampar dapat menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem sungai ini. Sedih mendengarnya.

Setelah 2 jam menelusuri juga Sungai Bio, akhirnya kami sampai di Desa Koto Lamo, dan disambut ramah oleh pak Datuk Desa Koto Lamo. Aku sangat kagum saat memasuki kompleks ekowisata yang disediakan. Ukurannya cukup luas, dan segalanya efektif : barisan tenda, meja besar tempat berkumpul, api unggun dengan kursi kayu kecil, kamar mandi yang brilliant, sampai tempat santai dan pohon2 untuk hammock. Well prepared!

Kita istirahat sebentar, sambil teh-kopi dan snack, bisa ngobrol dengan pembawa perahu (pembawa perahu namanya apa ya? Bukan supir/nahkoda/kapten kan ya? ^^)  Kita bisa melihat ada sinergi pengelolaan ekowisata ini, dimana penduduk lokal juga turut ambil bagian dalam transpor, jasa dan konsumsi, sehingga ini bisa jadi bagian tambahan pencaharian. Bagus sekali karena dikembalikan ke penduduk lokal juga.

Menjelang sore kami menyebrang ke rumah penduduk dan berjalan keliling kampung sembari menuju Jembatan Koto Lamo yang fotoable, dan dibawahnya spot berangkat tube river. Ohya, untuk safety sangat baik sekali karena tersedia pelampung dan helm untuk setiap orang (kecuali ukuran anak2). Jadi sore ini kami habiskan untuk menelusuri sungai sama2 menggunakan ban. Dan namanya kalo sama sohib kental ya, semua dihebohin. Mungkin hewan2 di hutannya keganggu sama teriak2an gak jelas karena kebawa arus sana-sini dan karena drama mode on. But, what a fun afternoon, dan ditutup dengan mandi bersama di sungai. Coii..berasa bidadari turun dari lempuyangan gak choi!

Malam datang sedikit ditemani oleh hujan sebentar, namun tetap terobos karena urusan waktu makan malam^^. Untungnya hujan lekas reda, sehingga bisa berapi unggun sambil ngobrol dan nyanyi2 sambil ditemani lampu petormax. Ditemani hangatnya api unggun, jagung rebus, ubi bakar dan beratapkan langit berbintang sambil tertawa lepas bersama teman2 terbaik dan nyanyi ngalor-ngidul sampai senar putus. Bagi saya malam api unggun adalah puncaknya trip ini. Hehe...

Hari 2
Trek ke puncak kawasan rimbang baling di pagi hari (captured by Ceisar)
Puncak Rumput Manis (captured by Heri Budiman)
Super untuk foto pre atau pascawed ^^ (captured by Heri Budiman)
Benny dan rimbang baling (captured by ceisar)
Tube rafting @Sungai Santi (captured by Heri Budiman)
Drama skenario di sore hari ^^
Back home (captured by Heri Budiman)

Walau tidur cukup larut, tapi kita harus bangun pagi subuhnya demi mengejar sunrise di Puncak Rumput Manis! Jam 5 sudah prepare dan mulai menyebrang satu persatu ke Desa Koto Lamo. Perjalanan menuju Puncak Rumput Manis ini bisa dengan jalan kaki trekking sekitar 1 jam atau naik mobil seperti 4x4  Jimney yang disediakan bisa 15 menit saja. Jalur trekkingnya...oke aku harus jujur : nanjaaaak! Walau sudah berbatu, namun kemiringannya lumayan broooh. Aku cukup beruntung setelah jalan setengah jam masih bisa dijemput mobil hingga puncak, namun kita harus berbela sungkawa untuk brader2 yang mendadak hiking dari awal harus jalan. Hahaha...eh salah..hiks..hiks.. ^^

Sesampainya di Puncak Rumput Manis kita naik ke pelatarannya yang berdiri tegak dari kayu. Spot ini merupakan salah satu menu utama tripnya, dan memang walau masih berkabut, tempatnya udah cakep misterius banget! Demi foto instragamable yang yahud, dimana niatnya pose sambil ngopi di atas awan, kita pun langsung buka perkakas masak dan panasin air. Saat nyari2 ...tetott..gelasnya gak kebawa. Wkwkw...jadilah foto pake rantang. ^^

Tapi memang beda masak air untuk kopi atau mi instan di ketinggian. Excited! Untuk inilah aku menulis, agar gambaran perasaan saat itu masih bisa teringat saat membacanya kembali : sambil duduk di pelataran, angin semilir menyapa, di depan mata hutan Rimbang Baling gagah masih diselimuti awan dengan beberapa pucuk pohon mengintip, menunggu ufuk fajar muncul di ujung sana, ditemani seruput kopi panas dan candaan teman2 terbaik. Pagi sempurna bukan...? ^^

Lama nongkrong di pelataran, kita turun lagi ke Desa Koto Lamo untuk sarapan di rumah Datok, sambil persiapan untuk aktivitas selanjutnya, yaitu Tube Rafting. Spotnya rafting ada di Sungai Santi, sehingga kita naik perahu lagi sekitar setengah jam menelusuri sungai Bio. Desa Sungai Santi ini sendiri penduduknya hanya sekitar 10 KK, sedikit karena jembatan penghubungnya telah putus.

Panjang rafting di Sungai Santi ada 2 spot, dan kami mengambil yang rada pendek, sekitar 50 mtr. Arusnya seru dan aman dengan ban, dan karena jarlurnya pendek kita bisa berkali2 mengulanginya. Ohya, air di Sungai Santi ini sangatlah jernih! Kita bisa melihat dasar sungai sangkin bersihnya. Airnya yang dingin dan bersih membuat betah mandi berlama2. Hampir lewat tengah hari, kami pun kembali ke kompleks ekowisata, namun dengan cara yang berbeda yaitu menggunakan ban menelusuri Sungai Santi. Katanya sih baru kita yang melakukannya, dan memang menyenangkan, cocok untuk dikembangkan.

Riau punya ini! Cintai & rawat!

Ekowisata Rimbang Baling ini menurutku sangat layak untuk didatangi karena telah termanage dengan baik, spotnya juga bagus-bagus, sesuai untuk pecinta alam dan orang-orang yang merasa bingung di Riau mau ngapain aja. Mudah-mudahan keasriannya tetap terjaga, sungainya tetap jernih, budayanya tetap lestari, dan privasinya tetap terjaga.  Beruntung Riau punya Rimbang Baling yang ternyata sangat kaya.

Kamis, 07 Juli 2016

Wisata Batu Dinding

Wisata Batu Dinding
Aku sempat putus asa dengan alam Riau yang sepertinya tidak memberi banyak pilihan wisata. Namun dalam sebulan ini, diawali dari trip ke Tesso Nilo, kemudian ditawari ke alam Rimbang Baling, kali ini ada 1 spot lagi bernama Batu Dinding. Spot ini dikenalkan oleh rekan kantor dan diverifikasi bagus oleh Mas Umar dari Rimbang Baling. Tempat wisata Batu Dinding ini merupakan wisata air terjun bertingkat di daerah Kampar. Ya, Riau punya air terjun lho.

Tak berlama-lama, langsung minggu depannya (4 Juni 2016) aku dan rekan2 sekantor (Murya, Mbak Ade, Yayan, Arfan & Friend, Lili, Frania dan Dythia) berangkat di Sabtu pagi. Lokasinya sendiri ada di Desa Gema. Jadi sekitar 2,5 jam dari Pekanbaru, melewati Lipat Kain, masuk kanan di Simpang Pongkai dan ambil jalan kiri naik di pertigaan pelabuhan Desa Gema. Sepertinya spot ini sudah terkelola oleh penduduk lokal, namun belum terlalu diexpose. Sampai di desa terakhir, kita harus parkir mobil di posko. Penduduk di posko memberi 2 pilihan, yaitu treking sekitar 40 menit atau naik perahu untuk memotong jalur treking. Oke, kami mencoba berangkat dari jalur treking. Sedangkan untuk pulang kami memilih menggunakan perahu dengan biaya 80rb sekali antar.

Jalurnya sendiri sudah bertanah keras, namun ada beberapa titik terjal, dan timingnya kurang beruntung pas matahari sedang di atas kepala. Di sepanjang jalur pun sudah ada tersedia 2-3 pondok dan tempat beristirahat, melewati jembatan serta menyebrang aliran sungai.

Tepat menyebrang sungai, karena kekurangtahuan, kami ambil jalur menanjak yang melewati hutan semak, dan berujung pada air terjun tingkat ke 3. Setelahnya baru kami sadari bahwa sebenarnya ada jalur treking yang lebih mudah menelusuri aliran sungai, bahkan sudah ada pijakan sebagai panduan jalan, dan melewati air terjun tingkat 1 dan 2. Air terjun tingkat 1 lebih landai dan bisa dijadikan tempat perosotan sambil tiduran di batu tempat air terjun mengalir. Air terjun tingkat 2 berupa jatuhan air yang lebih pendek ke laguna dan terlindungi rindang pepohonan. Kami langsung ke air terjun tingkat 3, yang air terjunnya lebih tinggi, debit banyak dan jatuh di laguna berwarna biru-hijau jernih. Spot ini dikelilingi oleh bebatuan tinggi, sehingga tidak heran namanya Batu Dinding.
Jalur Treking
Disediakan ban utk bermain
The team!
Kami sengaja tadinya bawa tenda untuk properti foto, namun sepertinya tidak bisa dipakai di lokasi ini ^^. Namun, laguna dan air terjunnya sendiri sudah cukup ciamik untuk dijadikan tempat foto, apalagi dalam keadaan sepi. Silahkan berpuas ria main air terjun dengan ban yang disediakan oleh penduduk lokal, dan setelah itu nikmati makan siang yang dibawa dari bawah. Rasa kenyangnya akan bedaa!

Untuk kembali kami memilih naik perahu menelusuri sungai kampar sekitar 15 menit ke desa terdekat dari tempat parkir mobil. Menyusuri Sungai Kampar ini pun ada kenikmatan sendiri, karena dapat menikmati indahnya pinggir sungai yang rumputnya tertata rapi karena dimakan kerbau ^^, airnya yang jernih dan dikelilingi hutan asri dengan angin semilir. Alam memang latar sempurna untuk foto dari angle manapun.
Alternatif transpor dengan perahu 15 menit
Indah sepanjang susur sungai Kampar
Alam selalu menjadi background sempurna dari angle manapun
Tepi sungai Kampar

Yap, akhirnya setelah 5 tahun lebih di Riau, aku bisa menemukan beberapa spot alam bagus untuk dikunjungi. Ayo ke Riau dan tetap ingat jaga kelestarian alam dan budayanya.