Kamis, 01 Februari 2018

Caleb, Foo Fighters dan Hidup-Mati Saat Bersalin



Halo! Aku Refcaleb!
Seminggu  ini aku coba untuk buka blog lagi dan baru sadar ternyata blog terakhir itu di Februari 2017. Waduh, sudah setahun! Mesti nulis lagi nih! Trus mikir-mikir, mau nulis tentang travel yang mana ya (kayak banyak aja. Ha5). And then, ..., kenapa gak nulis tentang anak ya. *cling

Iya, keluarga kecilku udah diberkati dengan seorang anak laki2. 26 Januari kemarin dia berumur 5 bulan. Aku masih ingat momen2 lahiran dia, dan udah niat saat itu bahwa one day momen itu akan kurekam dalam tulisan. Kenapa? Karena peristiwa itu memorable dan sangat emosional sekali.

....

3 hari sebelum lahiran, aku dan istri memang sengaja cek ke dokter kandungan, dr. Imelda Hutagaol, Sp.Og. Kami mau pastikan kondisi kandungan gimana di minggu ke-38 ini dan kapan HPL (hari perkiraan lahir), karena aku besoknya akan Employee Gathering (EG) ke Batam daaann...sabtunya nyebrang ke Singapore untuk nonton konser Foo Fighters (FF). ^_^

Usia kandungan istri udah 38 minggu kok sempat2nya sih? I know... orang tua dan mertua juga udah protes. Tapi setelah cek ke dokter memang HPLnya 2 minggu lagi, di sekitar tanggal 12 September 2017, jadi semacam signal hijau untuk berangkat kan ya. Ditambah lagi karena posisi struktural di kantor jadi kurang enak kalau tidak berangkat EG. Dan untuk yang konser FF, ya..itu..tiketnya udah dibeli sejak awal tahun. Maksudku, ini Foo Fighters lho, aku itu tumbuh di zaman dia. #asik. Dan di 2012 dia pernah batal konser di Singapore. Trus tau kan skarang banyak idola musik yang tiba2 depresi atau meninggal, kalo tiba2 bang Dave Grohl ikut trend bunuh diri karena depresi gimana?? jadi ya sayang banget dilewatkan. Paham kan? Pahamlah ya.. Hehe
Masih sempat (sempatnya) ikut Employee Gathering kantor ^_^
Jadilah besoknya Jumat, 25 Agustus 2017 bersama rombongan nyaris full sepesawat berangkat ke Batam. Serombongan kita nginap di Hotel Ibis Style. Aku harus acungkan jempol untuk hotel ini. Seperti namanya, sangat stylish. Wifi sangat kenceng, dan restorannya gak hanya menang di disain kece, tapi juga makanan enak dan variatif. Budget untuk kamar ini sekitar 500-700rb per malamnya include sarapan. Malamnya pun masih sempat jalan sama temen di De Patros. Dari dulu aku paling senang hangout disini, dengan pertimbangan lokasinya yang di pinggir pantai, pilihan makanan cukup variatif dan ada live music! Rekapnya : nongkrong malam di pinggir pantai bersama angin laut  dengan atmosfer syahdu, menikmati live music, sambil ngborol goblok sama teman2 terbaik...kayaknya gak ada yang kurang.
Si $242 yang hangus. wkwkwk
Besok paginya kita semua gabung ke acara outbond kantor yang berlokasi di Nongsa Ressort. Dari semalamnya sudah direncanakan setelah outbond siang, aku dan 2 teman lagi (Wanti dan Mira) langsung cabut ke Nongsa Port untuk nyebrang ke Singapore, dan jumpa ama Benny dan Adi (iya, mereka lagi-mereka lagi. Teman travel terbaik sejak edisi Flores). Jadi dari pagi udah deg-degan ya, harap2 cemas bakal aman gak kabur dan semoga gak telat nonton Foo Fighters. Soalnya kami beli tiket Standing A yang notabene diri paling depan dan harganya paling mahal S$ 242 atau 1,8jt, dan niat betul mau diri dekat stage! So, feel excited yet worried. Tapi kemudian terjadilah hal itu...

T.h.e-M.o.m.en.t

Aku ingat betul waktu itu sedang sesi game dalam group dan sekitar jam 10 ponsel bergetar dan nama istri di layar. Aku masih berhaha-hihi lalu jawab halo, dan saat istri bilang : “bang, aku udah pecah ketuban. Tadi habis senam hamil dan air ketubannya keluar...”, pada detik itu aku langsung terdiam, walaupun keadaan sekitar riuh ramai teriak. Sesaat kemudian aku bilang ke istri : “iya, aku pulang sekarang. Kamu tetap tenang dan berdoa”. Dalam hati aku berkecamuk dan kalut. Tanpa pikir panjang ambil tas  yang ada dan cari kendaraan untuk ke bandara. Di mobil disempatkan buka Traveloka, cari penerbangan tercepat Batam ke Pekanbaru. Thanks God ada jam 10 dan ada jam 12. Jam 10 gak bisa lagi dibeli dan langsung ambil yang jam 12 dan bayar pakai kartu kredit. Terima kasih untuk Traveloka, mudah dan berjasa banget.

Sampai jam 11 kurang di bandara Hand Nadim Batam, pesawat yang jam 10 sudah close, jadi mau gak mau yang jam 12. Itu adalah 1 jam terlamaaa dan paling gak tenang dalam hidup aku. Selama menunggu flight, aku 2 kali menangis (padahal aku jarang nangis). Natural aja menangis mengingat akan ketemu anak dan please percepat waktu ini dan buat pesawat itu on time, dan menangis karena bodohnya aku gak mau jadi suami siaga aja di Pekanbaru.

Udah, urusan nangis gak usah diperpanjang. Wkwk.. Selama di ruang tunggu juga jadinya aku sempat kabarin ke Adi dan Benny kalau aku cancel, balik ke PKU dan mereka silahkan lanjut. Dan aku juga baru sadar barang2 masih banyak di kamar hotel, jadi kabarin ke panitia. Terima kasih Tuhan, semua semesta serasa membuat lancar.

Selama di pesawat juga tetap gak tenang walau hanya 30 menit. Dan semakin gak tenang karena entah kenapa pesawat batal landing sampai 3 kali padahal cuaca cukup baik. Runway udah nampak, eh naik lagi, mutaaarr lagi, turun lagi, naik lagi, mutaaarr lagi... Gila, ini pesawat landing atau perasaan sih kok pakai dipermainkan. Haha..

Untung hanya bawa 1 tas aja jadi bisa langsung gerak ke parkiran dijemput adik ipar. Kami langsung ke Rumah Sakit Awal Bros dan berharap itu anak nunggu bapaknya dulu baru lahir. Dan masuk kamar inap, ada istri dan mertua. Karena sudah keburu pecah ketuban, jadi istri gak bisa banyak gerak, makanya tiduran aja dan itu jam 4 sore kondisi masih bukaan 1. Kondisi dari sore masih sesekali sakit, dan gak bisa sering diperiksa karena risiko infeksi ketuban. Masuk jam 7 kondisi masih di bukaan 1. Info yang diberikan kepada kami, lewat dari 14 jam setelah pecah ketuban maka bayi harus dikeluarkan, sehingga akhirnya diberilah suntikan induksi pertama. Setelah induksi pertama ini, istri makin sering kesakitan, namun setelah itu tenang kembali dan bisa tiduran. Masuk jam 9 kurang masih bukaan 3, sehingga diberilah  induksi kedua. Setelah induksi kedua, frekwensi istri kesakitan makin sering dan mulesnya makin menjadi2, namun diminta untuk tidak ngeden dulu, untuk menghemat tenaga.
You are brave and wonderful!
Dukungan suami sangat penting
Sekitar jam 9, dokter kandungan, dr.Imelda datang. Kami memang dari awal menginginkan beliau dokter yang menangani istri bersalin, dan sejak awal sepakat untuk berjuang lahir normal, dan memang dari awal posisi kepala bayi sudah baik di panggul dan memungkinkan normal. Aku selalu ingat kata beliau, bahwa kita komit, kalau normal ya normal, nanti jangan minta SC karena tidak kuat. ^^. Sehingga, saat jam 9 beliau berkunjung, pun dia masih pada semangat yang sama : lahir normal.

Begitu juga aku dan istri, yang dari awal memang sepakat lahiran normal, sehingga peranan suami untuk menyemangati dan menguatkan adalah sangat penting. Kadang memang keluarga kita sangkin sayangnya menyarankan untuk di SC saja karena tidak tega lihat istri kesakitan. Untuk diketahui, kami gak masalah kok kalau sebuah keluarga pilih normal atau SC, cuman kami memang sudah meniatkan normal, karena memang secara medis memungkinkan dan pasca melahirkan akan lebih cepat pulih. Oleh keteguhan dan dibarengi dengan doa itulah kami juga menolak untuk menyerah, dan memilih untuk ‘menikmati’ sakit melahirkan. Melalui tulisan ini memang aku sampaikan, terpujilah engkau para Ibu yang dengan sakit melahirkan anaknya. Luar biasa banget. Secara fisik istri sangat terkuras, karena menahan sakit mules tapi harus menahan tidak ngeden. Secara emosi juga iya, terus menerus menyebut nama Tuhan dan sambil mengelus2 perutnya dan bilang cepatlah nak...segeralah keluarlah nak...

Dan aku seorang suami yang beruntung bisa ‘menikmati’ semua proses itu bersama istri. Suami memang secara fisik tidak merasakan sakitnya, tapi keberadaan apalagi peranan suami sangatlah penting. Aku ingat aku harus berada disampingnya selama proses itu, menggenggam tangannya saat dia kesakitan, membiarkan dia meremas tangan atau mencakar badanku. Mencium dan memeluknya erat saat kontraksi datang, mengelap keringatnya sambil memperbaiki rambutnya. Mengusap2 punggungnya dengan minyak angin dan berdoa bersamanya terus menerus...

Jam 10 istri semakin sering kesakitan, gerakan dan nafas saat senam hamil sepertinya cukup membantunya untuk tidak panik. Aku lapor bidan karena istri sudah tidak tahan. Bidan memeriksa dan kondisi sudah bukaan 8 ke 9, saat itu juga kondisi yang tenang di kamar mendadak tegang. Bidan teriak memanggil bidan lainnya untuk siap2, segalanya begitu cepat. Bidan lain sigap datang, tempat tidur dibereskan dan didorong ke luar kamar menuju ruang bersalin, aku tetap mengikuti sambil lari tergopoh karena tidak siap dengan kondisi ini walau sudah seharian ditunggu2. Masuk ruang bersalin,  aku tetap ikut masuk mendampingi dan istri dipindah ke meja ginekologi. Aku melihat kedua bidan cekatan menyiapkan semua alat sambil sesekali mendatangi istri dan mengatakan nafasnya hu-hu-ha-ha. Dokter datang jam 10 lewat, dan setelah memeriksa kesiapan, istri diminta mulai mengeden. Beberapa kali benar cara ngedennya, namun ada juga salah. Lewat 1,5 jam kepala bayi sudah kelihatan namun belum juga keluar. Begitu lama bahkan dokter sempat memesankan teh manis hangat agar istri punya tenaga lagi.

Dan waktu pun sudah hampir lewat tengah malam. Dokter memutuskan untuk melakukan vakum. Vakum pertama, istri sekuat tenaga mengeden dan kedua bidan membantu mendorong perutnya sedangkan aku menahan agar meja ginekologi  steady. Namun kepala bayi belum berhasil keluar sepenuhnya. Akhirnya dilakukanlah vakum kedua, dan saat kepala bayi mulai keluar dokter melihat bayi kelilit sehingga setelah tali pusar digunting....cuurr...bayi dengan lancarnya keluar dari rahim istri. Dan gak berapa lama setelah diangkat, kami mendengar suara terindah itu, tangisan Caleb. Tangisan di jam 11.55 tanggal 26 Agustus 2017  (saat aku menulis ini aku tak sengaja menangis mengenangnya).

Welcome to the world son!
Perhatian kami pun hanya fokus pada Caleb sambil memanggil-manggil namanya untuk merespon tangisannya. Tidak menghiraukan lagi suster yang sibuk berberes, membersihkan ari-ari, menyuntikkan vaksin anti radang selaput otak atau dokter yang sedang menjahit istri. Bahagia akhirnya bisa melihat Caleb hadir di dunia ini, dengan pipinya yang gendut, jarinya yang mungil dan tangannya yang meraih2.

Namun tak berapa lama, dokter mengobservasi Caleb dan mengatakan nangisnya merintih, kurang lantang. Kemungkinannya karena proses lahiran yang cukup lama hampir 2 jam, sehingga untuk Caleb yang baru kami lihat kurang dari setengah jam langsung diminta untuk dibawa ke NICU. Kebahagiaanku berganti rasa gelisah dan penuh tanda tanya, kenapa? Ada apa?

Istri pun kutinggal dengan mertua pasca melahirkan, dan aku diminta untuk ikut ke ruang NICU. Oleh bidan, Caleb dimasukkan dalam inkubator. Di ruangan itu ada 2 bayi lainnya di masing2 inkubator dengan kondisi selang disana-sini. Pada akhirnya nangisku tidak tertahan, aku hancur membayangkan anakku yang baru lahir ini akan diinkubator seperti itu dan sendiri di sini. Dokter bilang fisiknya baik, bekas vakumnya akan membaik seiring waktu, dan untuk tangisnya merintih akan diobservasi. Aku mengiyakan dan mencoba tenang, aku gak mau aku menangis di depan istriku. Memang naluri kepala keluarga otomatis keluar. Intuisi untuk membuat keluarga tenang itu keluar, dan itu terjadi setelah 5 menit yang lalu aku baru nangis berontak.

Berjumpa dengan istri dan keluarga, aku dengan tenang bilang semua under control. Caleb sedang diobservasi dan dia gak nangis lagi, dan saat kutinggal dia sudah tidur. Tentu itu semua untuk membuat keluarga tenang, sehingga perjuangan malam itu diakhiri dengan beristirahat karena besok subuh kami harus hadir di NICU saat visit dokter.

Pukul 5 pagi kami bangun dan di ruang NICU sudah ada dokter anak dr.Dewi Robinar yang sudah mengobservasi Caleb. Bahagianya sangat sekali saat melihat Caleb tidur tenang, dan juga saat dokter memberitakan dia sehat dan normal, dan siangnya sudah bisa keluar NICU. Sehingga pagi hingga siang pada hari itu, kami tidak sabar menunggu Caleb datang dan berkali2 menanyakan. Hingga sekitar jam 2, akhirnya Caleb si bayi ganteng, berkulit putih, berbibir merah, pipi tembem dan rambut tipis hadir bersama kami. Kebahagiaan maksimal bisa melihatnya. Berakhir sudah penantian 14 jam sakit melahirkan dan 2 jam proses bersalin. Bahkan aku sudah lupa dengan tiket Foo Fighter yang hangus 2 juta beserta kamarnya. Hahaha..


Butuh berbulan2 doa untuk memintamu nak. Butuh berbulan2 untuk menunggumu dalam kandungan. Dan butuh pengorbanan hingga garis antara hidup-mati saat melahirkanmu. Serta menguras emosi untuk menantikanmu. Dan saat melihatmu, kami sangat bersyukur semua tergantikan dengan sukacita melimpah.

~Diberkatilah kau Caleb menjadi anak yang sehat, kuat dan tangguh. Mencintai Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun.~ (Doa berkat pagi papa untuk Caleb)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar